‘Insufficiency or Unsuitability of Packing’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Dalam kaitannya dengan kerusakan barang muatan akibat ketidakcukupan atau ketidaklayakan pembungkus (insufficiency or unsuitability of packing),  timbul pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab atas hal ini, apakah pihak pengirim (shipper) atau pihak pengangkut (carrier) ?. Bagaimana status liability polis asuransi pengangkutan barang (cargo insurance) terhadap kasus klaim ketidakcukupan (insufficiency) atau ketidaklayakan (unsuitability) pembungkus ini ?. Continue reading “‘Insufficiency or Unsuitability of Packing’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

Kapan Asuransi Pengangkutan Barang (Cargo Insurance) Mulai Berlaku ?

Jika time policy menggunakan tanggal dan jam sebagai patokan efektif mulai dan berakhirnya pertanggungan maka dalam voyage policy tidak demikian. Struktur penulisan dalam schedule polis asuransi berbasis voyage (seperti marine cargo) berbeda dengan schedule polis berbasis kurun waktu (time policy) dimana jangka waktu pertanggungan yang biasanya ditulis “dimulai dari tanggal dd/mm/yy sampai dengan tanggal dd/mm/yy pukul 12.00 tengah hari waktu dimana objek pertanggungan berada” diganti menjadi “tanggal pengiriman” atau “date of sailing”. Continue reading “Kapan Asuransi Pengangkutan Barang (Cargo Insurance) Mulai Berlaku ?”

Conditions Precedent to Insurers’ Liability

Dalam wording polis asuransi, selain dicantumkan operative clause maupun exclusions, biasanya juga terdapat pasal-pasal yang mengatur persyaratan isi perjanjian yang disebut sebagai “conditions” atau “syarat-syarat/kondisi pertanggungan”. Salah satu jenis conditions adalah “conditions precedent to insurers’ liability” yaitu kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum diakuinya tanggung jawab atau liability penanggung atas suatu kejadian klaim. Continue reading “Conditions Precedent to Insurers’ Liability”

Proximate Cause dalam Kasus Reischer v Borwick (1894)

Meskipun prinsip proximate cause telah dicontohkan secara jelas dalam kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918) namun guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap prinsip tersebut, kita dapat membaca kasus lain di bawah ini. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Reischer v Borwick (1894)”

‘All Risks’ dan ‘Proof of Loss’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Wording polis ICC (Institute Cargo Clause) A yang biasanya dipakai dalam asuransi pengangkutan memberikan jaminan atau coverage yang paling luas diantara ICC lainnya (B atau C) dengan pencantuman risk clause yang berbunyi, “This insurance covers all risks of loss of or damage to the subject matter insured except as excluded by the provisions of Clauses 4, 5, 6 and 7 below.” Continue reading “‘All Risks’ dan ‘Proof of Loss’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

‘Inherent Vice’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Dalam General Exlusions Clause wording ICC (Institute Cargo Clause) A/B/C disebutkan pengecualian kerugian atau kerusakan cargo karena inherent vice melalui kalimat dengan redaksional, “In no case shall this insurance cover loss damage or expense caused by inherent vice or nature of the subject matter insured.” Continue reading “‘Inherent Vice’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

Apa Itu Contractual Liability ?

Secara umum, contractual liability dapat didefinisikan sebagai liability yang timbul dari suatu kontrak dimana salah satu pihak bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakukan pihak lain (yang mengakibatkan pihak ketiga mengalami kerugian) sebagai konsekuensi atas adanya klausul yang mengatur hal itu dalam perjanjian diantara keduanya. Continue reading “Apa Itu Contractual Liability ?”

‘Cross Liability’ pada Polis Asuransi Tanggung Gugat Pihak Ketiga

Secara umum, polis-polis third party liability baik yang bersifat berdiri sendiri (stand alone) seperti PL (Public Liability) atau CGL (Comprehensive General Liability) maupun yang bersifat extended coverage seperti pada polis asuransi CAR (Contractors All Risks) atau EAR (Erection All Risks) hanya mengcover tanggung gugat tertanggung kepada pihak ketiga akibat kelalaian yang dilakukan tertanggung yang mengakibatkan pihak ketiga mengalami kerugian baik cedera badan (bodily injury) maupun kerusakan harta benda (property damage). Continue reading “‘Cross Liability’ pada Polis Asuransi Tanggung Gugat Pihak Ketiga”

Proximate Cause dalam Kasus Wayne Tank and Pump Co. Ltd v Employers Liability Assurance Corporation Ltd (1974)

Menentukan proximate cause dalam kasus kejadian tunggal (single cause) lebih mudah dilakukan daripada harus menganalisa dan menentukan proximate cause yang melibatkan beberapa kasus (multiple causes) seperti dalam yurisprudensi Leyland Shipping Co v Norwich Union dimana terdapat 2 (dua) penyebab : perang (war) dan badai (storm). Dalam kasus berikut terjadi peristiwa yang mirip dengan kejadian di atas dimana hakim pengadilan harus memilih satu diantara dua penyebab yang dinyatakan sebagai proximate cause. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Wayne Tank and Pump Co. Ltd v Employers Liability Assurance Corporation Ltd (1974)”

Kewajiban Operator Angkutan Umum Mengasuransikan Tanggung Gugatnya kepada Penumpang Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009

Bagi pemilik atau operator kendaraan angkutan umum, selain terkena iuran SWDKLLJ yang disetorkan ke PT Jasa Raharja, mereka juga sebenarnya terkena kewajiban mengikuti asuransi wajib lainnya yaitu passenger legal liability (tanggung gugat kepada penumpang) sebagaimana termuat dalam Pasal 189 UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Continue reading “Kewajiban Operator Angkutan Umum Mengasuransikan Tanggung Gugatnya kepada Penumpang Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009”

Proximate Cause dalam Kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918)

Meskipun definisi proximate cause lahir atau diambil dari perkara Pawsey v Scottish Union & National (1907) dimana dinyatakan bahwa “proximate cause means the active, efficient cause that sets in motion a train of events which brings about a result, without the intervention of any force started and working actively from a new and independent source“, namun contoh kasus yang dapat memberikan ilustrasi yang baik terhadap prinsip asuransi ini dapat dilihat pada kasus lain di bawah ini. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918)”

Klaim Terpaparnya Body Mobil oleh Sisa Penyemprotan Cat Mobil Lain

Dalam sebuah kasus laporan klaim, seorang nasabah yang baru saja membeli mobil keluaran terbaru dari sebuah dealer di kotanya dan sekaligus membeli polis asuransi kendaraan dari sebuah perusahaan asuransi kepercayaannya mengajukan klaim akibat body mobil terpapar sisa-sisa penyemprotan cat mobil lain. Continue reading “Klaim Terpaparnya Body Mobil oleh Sisa Penyemprotan Cat Mobil Lain”