Apa Itu Contractual Liability ?

Secara umum, contractual liability dapat didefinisikan sebagai liability yang timbul dari suatu kontrak dimana salah satu pihak bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakukan pihak lain (yang mengakibatkan pihak ketiga mengalami kerugian) sebagai konsekuensi atas adanya klausul yang mengatur hal itu dalam perjanjian diantara keduanya. Continue reading “Apa Itu Contractual Liability ?”

‘Cross Liability’ pada Polis Asuransi Tanggung Gugat Pihak Ketiga

Secara umum, polis-polis third party liability baik yang bersifat berdiri sendiri (stand alone) seperti PL (Public Liability) atau CGL (Comprehensive General Liability) maupun yang bersifat extended coverage seperti pada polis asuransi CAR (Contractors All Risks) atau EAR (Erection All Risks) hanya mengcover tanggung gugat tertanggung kepada pihak ketiga akibat kelalaian yang dilakukan tertanggung yang mengakibatkan pihak ketiga mengalami kerugian baik cedera badan (bodily injury) maupun kerusakan harta benda (property damage). Continue reading “‘Cross Liability’ pada Polis Asuransi Tanggung Gugat Pihak Ketiga”

Proximate Cause dalam Kasus Wayne Tank and Pump Co. Ltd v Employers Liability Assurance Corporation Ltd (1974)

Menentukan proximate cause dalam kasus kejadian tunggal (single cause) lebih mudah dilakukan daripada harus menganalisa dan menentukan proximate cause yang melibatkan beberapa kasus (multiple causes) seperti dalam yurisprudensi Leyland Shipping Co v Norwich Union dimana terdapat 2 (dua) penyebab : perang (war) dan badai (storm). Dalam kasus berikut terjadi peristiwa yang mirip dengan kejadian di atas dimana hakim pengadilan harus memilih satu diantara dua penyebab yang dinyatakan sebagai proximate cause. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Wayne Tank and Pump Co. Ltd v Employers Liability Assurance Corporation Ltd (1974)”

Kewajiban Operator Angkutan Umum Mengasuransikan Tanggung Gugatnya kepada Penumpang Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009

Bagi pemilik atau operator kendaraan angkutan umum, selain terkena iuran SWDKLLJ yang disetorkan ke PT Jasa Raharja, mereka juga sebenarnya terkena kewajiban mengikuti asuransi wajib lainnya yaitu passenger legal liability (tanggung gugat kepada penumpang) sebagaimana termuat dalam Pasal 189 UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Continue reading “Kewajiban Operator Angkutan Umum Mengasuransikan Tanggung Gugatnya kepada Penumpang Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009”

Proximate Cause dalam Kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918)

Meskipun definisi proximate cause lahir atau diambil dari perkara Pawsey v Scottish Union & National (1907) dimana dinyatakan bahwa “proximate cause means the active, efficient cause that sets in motion a train of events which brings about a result, without the intervention of any force started and working actively from a new and independent source“, namun contoh kasus yang dapat memberikan ilustrasi yang baik terhadap prinsip asuransi ini dapat dilihat pada kasus lain di bawah ini. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918)”

Klaim Terpaparnya Body Mobil oleh Sisa Penyemprotan Cat Mobil Lain

Dalam sebuah kasus laporan klaim, seorang nasabah yang baru saja membeli mobil keluaran terbaru dari sebuah dealer di kotanya dan sekaligus membeli polis asuransi kendaraan dari sebuah perusahaan asuransi kepercayaannya mengajukan klaim akibat body mobil terpapar sisa-sisa penyemprotan cat mobil lain. Continue reading “Klaim Terpaparnya Body Mobil oleh Sisa Penyemprotan Cat Mobil Lain”

Pengecualian Kecelakaan Tunggal dalam Klaim Asuransi Jasaraharja

Apa yang Anda bayangkan melihat foto di bagian bawah dari tulisan ini ? Sebuah mobil terlihat menabrak sebuah pohon yang berdiri di tengah-tengah hutan belantara. Bagaimana dengan sopir dan penumpang yang berada di dalam, apakah jika mengalami luka dapat dicover biaya pengobatan rumah sakit dengan asuransi Jasaraharja ?. Continue reading “Pengecualian Kecelakaan Tunggal dalam Klaim Asuransi Jasaraharja”

Penyebab Munculnya Rate Asuransi Kebakaran yang Berbeda untuk Objek Pertanggungan yang Sama

2 (dua) tahun sejak dibentuknya OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pada tahun 2011 (sesuai amanat UU No. 21 Tahun 2011), OJK berhasil membuat aturan penetapan tarif atau rate premi dan akuisisi untuk lini bisnis asuransi kendaraan bermotor dan asuransi harta benda berdasarkan SE Kepala Eksekutif Pengawas IKNB No. SE-06/D.05/2013 tertanggal 31 Desember 2013 beserta lampiran-lampirannya. Continue reading “Penyebab Munculnya Rate Asuransi Kebakaran yang Berbeda untuk Objek Pertanggungan yang Sama”

TFSWD Endorsement on PAR Munich-Re, An Extended or A Restricted Coverage?

Both PAR (Property All Risks) and IAR (Industrial All Risks) which categorized as “all risks” policy, provide “unforeseen”, “sudden”, and “accidental” damage or “physical loss” other than specifically excluded in the exceptions. Continue reading “TFSWD Endorsement on PAR Munich-Re, An Extended or A Restricted Coverage?”

Single Loss Clause (72 Hours Clause) pada Polis Asuransi CAR

Proyek-proyek konstruksi yang berdiri di lingkungan luar dan dikelilingi oleh bentang alam yang beraneka ragam menyebabkan keberadaan proyek tersebut akan selalu dihadapkan pada risiko kerugian yang besar akibat peristiwa bencana alam yang tak terduga. Dengan demikian penanggung harus cukup berhati-hati dalam menerima risiko ini. Continue reading “Single Loss Clause (72 Hours Clause) pada Polis Asuransi CAR”

Loss Limit pada Asuransi Harta Benda

“Loss limit” sebagaimana yang tercantum dalam Lampiran I SE OJK Nomor 6/SEOJK.05/2017 tentang Penerapan Tarif Premi atau Kontribusi pada Lini Usaha Asuransi Harta Benda dan Asuransi Kendaraan Bermotor Tahun 2017 dalam istilah lain dapat disebut sebagai “first loss insurance” yaitu jenis polis asuransi dimana harga pertanggungan (sum insured) tidak ditetapkan sebesar nilai keseluruhan risiko (full value) namun dibatasi pada suatu nilai tertentu yang lebih kecil dari itu. Salah satu alasan penggunaan loss limit ini adalah karena tertanggung meyakini bahwa nilai maksimum kerugian yang mungkin ia alami tidak akan mencapai nilai total risiko yang sebenarnya.  Continue reading “Loss Limit pada Asuransi Harta Benda”