Posisi Perusahaan Pengangkut dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Dalam pengiriman barang dari hasil proses jual beli biasanya akan melibatkan 3 (tiga) pihak yaitu seller (penjual), buyer (pembeli), dan perusahaan pengangkut (freight forwarding company) dimana masing-masing pihak akan memiliki insurable interest dan liability atas barang yang dikirim namun dalam kapasitas dan waktu yang berbeda. Continue reading “Posisi Perusahaan Pengangkut dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

Harga Pertanggungan Berdasarkan ‘Agreed Value’

Dalam beberapa kasus, harga pertanggungan yang tercantum dalam schedule polis asuransi mungkin ‘terpaksa’ tidak menggunakan dasar penentuan yang umum dipakai seperti Actual Cash Value (ACV) atau Reinstatement Cost Value (RCV). Salah satunya disebabkan oleh adanya kesulitan saat menentukan nilai sehat (sound value) atas objek yang akan diasuransikan. Untuk menengahi masalah ini, penanggung dan tertanggung dapat membuat kesepakatan dimana penentuan harga pertanggungan atas objek tersebut didasarkan pada agreed value. Continue reading “Harga Pertanggungan Berdasarkan ‘Agreed Value’”

Skema CNF/C&F/CFR dalam Impor Daging Kerbau oleh Bulog

Melalui release di sejumlah media online, termasuk bisnis.com, Perum Bulog merencanakan akan melakukan impor daging kerbau beku dari India yang tahap pertama akan direalisasikan pada akhir Maret 2018. Skema jual beli yang disepakati antara Bulog dan pihak eksportir adalah CFR (Cost and Freight) yang dalam implementasinya dapat merefleksikan hal-hal sebagai berikut : Continue reading “Skema CNF/C&F/CFR dalam Impor Daging Kerbau oleh Bulog”

Mengenal C & F Incoterms dan Posisi Kebutuhan Asuransi Pengangkutan di Dalamnya

Incoterms telah menjadi trade mark dalam dunia perdagangan internasional dimana bentuk-bentuk kontrak jual beli yang terdapat dalam Incoterms menggambarkan atau mendefinisikan tanggung jawab dan liability terhadap pengiriman suatu barang. Continue reading “Mengenal C & F Incoterms dan Posisi Kebutuhan Asuransi Pengangkutan di Dalamnya”

Prinsip ‘Insurable Interest’ dalam Praktek Asuransi

Insurable interest dapat didefinisikan sebagai, “the legal right to insure arising out of a financial relationship, recognized at law, between the insured and the subject matter of insurance”, atau jika di-Indonesia-kan : hak menurut hukum untuk mengasuransikan yang timbul dari hubungan finansial, yang diakui oleh hukum, antara tertanggung dan pokok pertanggungan). Continue reading “Prinsip ‘Insurable Interest’ dalam Praktek Asuransi”

Istilah ‘Risiko’ dalam Wording PSAKBI (Polis Standard Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia)

Istilah “risiko”, “bahaya”, “kerugian”, dan “hazards” merupakan istilah-istilah dasar yang tentunya sudah tidak asing lagi didengar oleh kalangan praktisi asuransi. Namun demikian mungkin saja masih ada miskonsepsi atau kesalahpahaman atas istilah-istilah tersebut dalam praktek sehari-hari. Continue reading “Istilah ‘Risiko’ dalam Wording PSAKBI (Polis Standard Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia)”

‘Remote Cause’ pada Kasus Penolakan Klaim PA saat Tertanggung Tidak Memiliki SIM yang Valid

Dalam sebuah case pengajuan klaim asuransi kecelakaan diri (PA-Personal Accident) dari seorang nasabah, pihak perusahaan asuransi menyatakan bahwa kasus tersebut tidak dapat diklaim (unclaimable) dengan alasan bahwa saat terjadinya kecelakaan, pengemudi sepeda motor yang sekaligus sebagai tertanggung tidak memiliki SIM yang valid (status belum diperpanjang). Continue reading “‘Remote Cause’ pada Kasus Penolakan Klaim PA saat Tertanggung Tidak Memiliki SIM yang Valid”

‘Insufficiency or Unsuitability of Packing’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Dalam kaitannya dengan kerusakan barang muatan akibat ketidakcukupan atau ketidaklayakan pembungkus (insufficiency or unsuitability of packing),  timbul pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab atas hal ini, apakah pihak pengirim (shipper) atau pihak pengangkut (carrier) ?. Bagaimana status liability polis asuransi pengangkutan barang (cargo insurance) terhadap kasus klaim ketidakcukupan (insufficiency) atau ketidaklayakan (unsuitability) pembungkus ini ?. Continue reading “‘Insufficiency or Unsuitability of Packing’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

Kapan Asuransi Pengangkutan Barang (Cargo Insurance) Mulai Berlaku ?

Jika time policy menggunakan tanggal dan jam sebagai patokan efektif mulai dan berakhirnya pertanggungan maka dalam voyage policy tidak demikian. Struktur penulisan dalam schedule polis asuransi berbasis voyage (seperti marine cargo) berbeda dengan schedule polis berbasis kurun waktu (time policy) dimana jangka waktu pertanggungan yang biasanya ditulis “dimulai dari tanggal dd/mm/yy sampai dengan tanggal dd/mm/yy pukul 12.00 tengah hari waktu dimana objek pertanggungan berada” diganti menjadi “tanggal pengiriman” atau “date of sailing”. Continue reading “Kapan Asuransi Pengangkutan Barang (Cargo Insurance) Mulai Berlaku ?”

Conditions Precedent to Insurers’ Liability

Dalam wording polis asuransi, selain dicantumkan operative clause maupun exclusions, biasanya juga terdapat pasal-pasal yang mengatur persyaratan isi perjanjian yang disebut sebagai “conditions” atau “syarat-syarat/kondisi pertanggungan”. Salah satu jenis conditions adalah “conditions precedent to insurers’ liability” yaitu kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum diakuinya tanggung jawab atau liability penanggung atas suatu kejadian klaim. Continue reading “Conditions Precedent to Insurers’ Liability”