Prinsip ‘Insurable Interest’ dalam Praktek Asuransi

Insurable interest dapat didefinisikan sebagai, “the legal right to insure arising out of a financial relationship, recognized at law, between the insured and the subject matter of insurance”, atau jika di-Indonesia-kan : hak menurut hukum untuk mengasuransikan yang timbul dari hubungan finansial, yang diakui oleh hukum, antara tertanggung dan pokok pertanggungan). Continue reading “Prinsip ‘Insurable Interest’ dalam Praktek Asuransi”

Istilah ‘Risiko’ dalam Wording PSAKBI (Polis Standard Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia)

Istilah “risiko”, “bahaya”, “kerugian”, dan “hazards” merupakan istilah-istilah dasar yang tentunya sudah tidak asing lagi didengar oleh kalangan praktisi asuransi. Namun demikian mungkin saja masih ada miskonsepsi atau kesalahpahaman atas istilah-istilah tersebut dalam praktek sehari-hari. Continue reading “Istilah ‘Risiko’ dalam Wording PSAKBI (Polis Standard Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia)”

‘Remote Cause’ pada Kasus Penolakan Klaim PA saat Tertanggung Tidak Memiliki SIM yang Valid

Dalam sebuah case pengajuan klaim asuransi kecelakaan diri (PA-Personal Accident) dari seorang nasabah, pihak perusahaan asuransi menyatakan bahwa kasus tersebut tidak dapat diklaim (unclaimable) dengan alasan bahwa saat terjadinya kecelakaan, pengemudi sepeda motor yang sekaligus sebagai tertanggung tidak memiliki SIM yang valid (status belum diperpanjang). Continue reading “‘Remote Cause’ pada Kasus Penolakan Klaim PA saat Tertanggung Tidak Memiliki SIM yang Valid”

‘Insufficiency or Unsuitability of Packing’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Dalam kaitannya dengan kerusakan barang muatan akibat ketidakcukupan atau ketidaklayakan pembungkus (insufficiency or unsuitability of packing),  timbul pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab atas hal ini, apakah pihak pengirim (shipper) atau pihak pengangkut (carrier) ?. Bagaimana status liability polis asuransi pengangkutan barang (cargo insurance) terhadap kasus klaim ketidakcukupan (insufficiency) atau ketidaklayakan (unsuitability) pembungkus ini ?. Continue reading “‘Insufficiency or Unsuitability of Packing’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

Kapan Asuransi Pengangkutan Barang (Cargo Insurance) Mulai Berlaku ?

Jika time policy menggunakan tanggal dan jam sebagai patokan efektif mulai dan berakhirnya pertanggungan maka dalam voyage policy tidak demikian. Struktur penulisan dalam schedule polis asuransi berbasis voyage (seperti marine cargo) berbeda dengan schedule polis berbasis kurun waktu (time policy) dimana jangka waktu pertanggungan yang biasanya ditulis “dimulai dari tanggal dd/mm/yy sampai dengan tanggal dd/mm/yy pukul 12.00 tengah hari waktu dimana objek pertanggungan berada” diganti menjadi “tanggal pengiriman” atau “date of sailing”. Continue reading “Kapan Asuransi Pengangkutan Barang (Cargo Insurance) Mulai Berlaku ?”

Conditions Precedent to Insurers’ Liability

Dalam wording polis asuransi, selain dicantumkan operative clause maupun exclusions, biasanya juga terdapat pasal-pasal yang mengatur persyaratan isi perjanjian yang disebut sebagai “conditions” atau “syarat-syarat/kondisi pertanggungan”. Salah satu jenis conditions adalah “conditions precedent to insurers’ liability” yaitu kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum diakuinya tanggung jawab atau liability penanggung atas suatu kejadian klaim. Continue reading “Conditions Precedent to Insurers’ Liability”

Proximate Cause dalam Kasus Reischer v Borwick (1894)

Meskipun prinsip proximate cause telah dicontohkan secara jelas dalam kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918) namun guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap prinsip tersebut, kita dapat membaca kasus lain di bawah ini. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Reischer v Borwick (1894)”

‘All Risks’ dan ‘Proof of Loss’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Wording polis ICC (Institute Cargo Clause) A yang biasanya dipakai dalam asuransi pengangkutan memberikan jaminan atau coverage yang paling luas diantara ICC lainnya (B atau C) dengan pencantuman risk clause yang berbunyi, “This insurance covers all risks of loss of or damage to the subject matter insured except as excluded by the provisions of Clauses 4, 5, 6 and 7 below.” Continue reading “‘All Risks’ dan ‘Proof of Loss’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

‘Inherent Vice’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Dalam General Exlusions Clause wording ICC (Institute Cargo Clause) A/B/C disebutkan pengecualian kerugian atau kerusakan cargo karena inherent vice melalui kalimat dengan redaksional, “In no case shall this insurance cover loss damage or expense caused by inherent vice or nature of the subject matter insured.” Continue reading “‘Inherent Vice’ dalam Asuransi Pengangkutan Barang”

Apa Itu Contractual Liability ?

Secara umum, contractual liability dapat didefinisikan sebagai liability yang timbul dari suatu kontrak dimana salah satu pihak bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakukan pihak lain (yang mengakibatkan pihak ketiga mengalami kerugian) sebagai konsekuensi atas adanya klausul yang mengatur hal itu dalam perjanjian diantara keduanya. Continue reading “Apa Itu Contractual Liability ?”

‘Cross Liability’ pada Polis Asuransi Tanggung Gugat Pihak Ketiga

Secara umum, polis-polis third party liability baik yang bersifat berdiri sendiri (stand alone) seperti PL (Public Liability) atau CGL (Comprehensive General Liability) maupun yang bersifat extended coverage seperti pada polis asuransi CAR (Contractors All Risks) atau EAR (Erection All Risks) hanya mengcover tanggung gugat tertanggung kepada pihak ketiga akibat kelalaian yang dilakukan tertanggung yang mengakibatkan pihak ketiga mengalami kerugian baik cedera badan (bodily injury) maupun kerusakan harta benda (property damage). Continue reading “‘Cross Liability’ pada Polis Asuransi Tanggung Gugat Pihak Ketiga”