Posisi Perusahaan Pengangkut dalam Asuransi Pengangkutan Barang

Dalam pengiriman barang dari hasil proses jual beli biasanya akan melibatkan 3 (tiga) pihak yaitu seller (penjual), buyer (pembeli), dan perusahaan pengangkut (freight forwarding company) dimana masing-masing pihak akan memiliki insurable interest dan liability atas barang yang dikirim namun dalam kapasitas dan waktu yang berbeda.

Insurable Interest pada Pengiriman Barang

Secara umum, dalam perdagangan ekspor impor yang menggunakan skema Incoterms, pihak seller (penjual) hanya memiliki insurable interest terhadap barang yang dijualnya dari titik awal keberangkatan barang sampai dengan barang tersebut selesai di-loading di atas kapal pengangkut. Selebihnya, segala risiko yang terjadi menjadi beban buyer (pembeli) sehingga insurable interest-nya pun berpindah ke pihak buyer.

Lalu bagaimana dengan posisi perusahaan pengangkut (freight forwarding company) dalam hal ini ?. Apakah ia juga memiliki insurable interest atas barang yang dibawanya selama perjalanan dari tempat keberangkatan sampai tujuan akhir pengiriman ?. Atas tanggung jawab pengangkut untuk menjaga barang bawaannya dengan baik sampai tempat tujuan, apakah carrier atau freight forwarder dalam asuransi pengangkutan barang (cargo insurance) dapat didudukkan sebagai tertanggung ?.

Atas posisi dan status carrier di atas terdapat 2 (dua) pendapat yang berbeda. Pendapat pertama menyatakan bahwa perusahaan pengangkut (carrier) dapat mengasuransikan barang milik seller atau buyer yang dibawanya di bawah cargo insurance. Sedangkan pendapat kedua menyatakan sebaliknya, perusahaan pengangkut (carrier) tidak dapat mengasuransikan barang milik seller atau buyer, kecuali jika menggunakan skema asuransi carrier liability atau freight forwarder liability.

Alasan pendapat pertama mengapa carrier boleh mengasuransikan barang di bawah cargo insurance adalah : atas kontrak pengangkutan yang dibuat antara dirinya dengan seller atau buyer maka ia memiliki insurable interest atas barang yang dibawanya (meskipun ia tidak memiliki barang tersebut). Atas adanya insurable interest inilah yang menjadikan perusahaan pengangkut dapat mengasuransikan barang bawaannya. Caranya dengan mencantumkan nama carrier dalam schedule polis sebagai nama tertanggung bersama (joint insured) : nama pengangkut and/or nama cargo owner. Dalam beberapa kasus pengajuan akseptasi memang kadang tercantum nama perusahaan pengangkut sebagai tertanggung melalui penulisan “PT freight forwarder and/or subsidiaries and/or associated companies and/or affiliated companies of the Insured and/or others for whom the Insured has agreed to obtain insurance for their respective rights and interest”.

Pendapat Kedua : Carrier atau Freight Forwarder tidak dapat Dijadikan Tertanggung dalam Cargo Insurance

John Dunt dalam bukunya “International Cargo Insurance” menyatakan sebagai berikut : “It is submitted that a carrier has no insurable interest in its carrying cargo under cargo insurance on the grounds that the purpose of cargo insurance is to protect cargo interests rather than the carrier’s liability”. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa jika carrier dinyatakan memiliki insurable interest maka tujuan dari cargo insurance menjadi terdistorsi manakala hak penanggung untuk melakukan subrogasi kepada carrier menjadi “terganggu”. Oleh karena itu, carrier sebaiknya memilih untuk mengasuransikan tanggung jawabnya sebagai pengangkut di bawah polis asuransi liability. Kerancuan ini kadang ditambah lagi dengan posisi carrier yang dalam posisi lain bertindak sebagai pembawa bisnis (intermediary). Ketika closing ia mendapat komisi asuransi, dan ketika klaim ia mendapat kompensasi ganti rugi !.

Selain alasan yang dikemukakan di atas, terdapat alasan lain mengapa perusahaan pengangkut (freight forwarder) sebenarnya tidak tepat dijadikan sebagai tertanggung (the insured) dalam polis asuransi pengangkutan barang (cargo insurance) yaitu  :

  • Dalam wording polis ICC (Institute Cargo Clause) 1.1.09 Pasal 15.2 dinyatakan bahwa “This insurance shall not extend to or otherwise benefit the carrier or other bailee”. Ketentuan ini dengan jelas menyatakan bahwa penggunaan ICC tidak dapat diperluas untuk memberikan manfaat atau keuntungan pada pihak carrier atau freight forwarding company atau perusahaan pengangkut atau bailee Bailee sendiri dapat didefinisikan sebagai pihak yang ditujukan dalam suatu pengiriman barang namun tidak disertai dengan pemindahan hak milik, sehingga pihak tersebut tidak dapat dijamin dalam ICC.
  • Pada saat yang sama, dalam ICC Pasal 16.2 dinyatakan bahwa “It is the duty of the Assured and their employees and agents in respect of loss recoverable hereunder to ensure that all rights against carriers, bailees or other third parties are properly preserved and exercised”. Melalui ketentuan ini, tertanggung, karyawan, dan agennya dalam hal terjadi suatu kerugian yang dijamin maka mereka harus memastikan bahwa hak untuk menuntut perusahaan pengangkut, bailee, dan pihak ketiga lainnya, dapat terjaga dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Bagaimana dengan pendapat Anda ?.

Referensi  :

http://konsultasi-klaim.blogspot.co.id/2015/11/asuransi-pengangkutan-dan-asuransi.html
http://www.indonesiare.co.id/id/knowledge/detail/35/BISAKAH-PIHAK-PENGANGKUT-ATAU-EKSPEDISI-MEMBUAT-POLIS-MARINE-CARGO-ATAS-BARANG-YANG-DIANGKUTNYA

asuransi pengangkutan barang

Share this article :

Disclaimer

All content and information on this website is published in good faith and for general information purpose only. We do not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of information on this site or found by following any link on this site. Any action you take upon the information found on this website is strictly at your own risk.

The owner will not be liable for any errors or omissions in this information nor for the availability of this information. The owner will not be liable for any losses, injuries, or damages from the display or use of this information.