Siapa yang Berhak Mengasuransikan ?

Dalam berbagai kesempatan bertemu dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam proses pemasaran produk asuransi terkadang ditemui pertanyaan dasar terkait pemenuhan prinsip dasar asuransi ”insurable interest”. Pertanyaan ini sekilas mudah sekali dijawab meskipun sebenarnya jika ditelusuri lebih lanjut bisa saja menimbulkan perdebatan yang panjang. Continue reading “Siapa yang Berhak Mengasuransikan ?”

Siapa yang Mempopulerkan Istilah NRV (New Replacement Value) ?

Sejak awal mempelajari prinsip dasar asuransi, kita mungkin lebih sering mendengar istilah NRV (New Replacement Value) dibanding RCV (Replacement Cost Value), sebagaimana lebih familiarnya kita mendengar istilah Indemnity dibanding ACV (Actual Cash Value). Continue reading “Siapa yang Mempopulerkan Istilah NRV (New Replacement Value) ?”

Konsep Insurable Interest pada Asuransi Jiwa

Terdapat sebuah case dimana sebuah yayasan atau organisasi keagamaan hendak mengasuransikan jiwa jamaahnya terhadap risiko kematian ke sebuah perusahaan asuransi jiwa di Indonesia. Permohonan tersebut pada akhirnya belum dapat dipenuhi perusahaan asuransi dengan latar belakang tidak ada insurable interest antara yayasan tersebut dan anggota jamaahnya. Continue reading “Konsep Insurable Interest pada Asuransi Jiwa”

Harga Pertanggungan Berdasarkan ‘Agreed Value’

Dalam beberapa kasus, harga pertanggungan yang tercantum dalam schedule polis asuransi mungkin ‘terpaksa’ tidak menggunakan dasar penentuan yang umum dipakai seperti Actual Cash Value (ACV) atau Reinstatement Cost Value (RCV). Salah satunya disebabkan oleh adanya kesulitan saat menentukan nilai sehat (sound value) atas objek yang akan diasuransikan. Untuk menengahi masalah ini, penanggung dan tertanggung dapat membuat kesepakatan dimana penentuan harga pertanggungan atas objek tersebut didasarkan pada agreed value. Continue reading “Harga Pertanggungan Berdasarkan ‘Agreed Value’”

Prinsip ‘Insurable Interest’ dalam Praktek Asuransi

Insurable interest dapat didefinisikan sebagai, “the legal right to insure arising out of a financial relationship, recognized at law, between the insured and the subject matter of insurance”, atau jika di-Indonesia-kan : hak menurut hukum untuk mengasuransikan yang timbul dari hubungan finansial, yang diakui oleh hukum, antara tertanggung dan pokok pertanggungan). Continue reading “Prinsip ‘Insurable Interest’ dalam Praktek Asuransi”

Conditions Precedent to Insurers’ Liability

Dalam wording polis asuransi, selain dicantumkan operative clause maupun exclusions, biasanya juga terdapat pasal-pasal yang mengatur persyaratan isi perjanjian yang disebut sebagai “conditions” atau “syarat-syarat/kondisi pertanggungan”. Salah satu jenis conditions adalah “conditions precedent to insurers’ liability” yaitu kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum diakuinya tanggung jawab atau liability penanggung atas suatu kejadian klaim. Continue reading “Conditions Precedent to Insurers’ Liability”

Proximate Cause dalam Kasus Reischer v Borwick (1894)

Meskipun prinsip proximate cause telah dicontohkan secara jelas dalam kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918) namun guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap prinsip tersebut, kita dapat membaca kasus lain di bawah ini. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Reischer v Borwick (1894)”

Proximate Cause dalam Kasus Wayne Tank and Pump Co. Ltd v Employers Liability Assurance Corporation Ltd (1974)

Menentukan proximate cause dalam kasus kejadian tunggal (single cause) lebih mudah dilakukan daripada harus menganalisa dan menentukan proximate cause yang melibatkan beberapa kasus (multiple causes) seperti dalam yurisprudensi Leyland Shipping Co v Norwich Union dimana terdapat 2 (dua) penyebab : perang (war) dan badai (storm). Dalam kasus berikut terjadi peristiwa yang mirip dengan kejadian di atas dimana hakim pengadilan harus memilih satu diantara dua penyebab yang dinyatakan sebagai proximate cause. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Wayne Tank and Pump Co. Ltd v Employers Liability Assurance Corporation Ltd (1974)”

Proximate Cause dalam Kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918)

Meskipun definisi proximate cause lahir atau diambil dari perkara Pawsey v Scottish Union & National (1907) dimana dinyatakan bahwa “proximate cause means the active, efficient cause that sets in motion a train of events which brings about a result, without the intervention of any force started and working actively from a new and independent source“, namun contoh kasus yang dapat memberikan ilustrasi yang baik terhadap prinsip asuransi ini dapat dilihat pada kasus lain di bawah ini. Continue reading “Proximate Cause dalam Kasus Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918)”

Polis Asuransi dengan Nama Tertanggung Bersama (Joint Insured Policy)

Polis asuransi yang mencantumkan nama tertanggung tunggal (single insured), baik 1 (satu) orang atau 1 (satu) company, tentu tidak akan menimbulkan banyak potensi masalah di kemudian hari, terutama jika terjadi klaim. Namun bagaimana dengan polis yang menggunakan nama tertanggung bersama (joint insured) yang biasanya melibatkan 2 (dua) pihak atau lebih ?. Continue reading “Polis Asuransi dengan Nama Tertanggung Bersama (Joint Insured Policy)”

‘Burden of Proof’ dan Penerapannya pada Polis Asuransi Berbasis ‘Named Perils’

Merujuk pada course book CII terbitan tahun 1984 berjudul Principles and Practice of Insurance karangan John T. Steele B.A, FCII disebutkan bahwa beban atau kewajiban pembuktian klaim (burden of proof) ada pada tertanggung dalam hal ia memang benar-benar mengalami kerugian yang disebabkan oleh suatu peristiwa yang diasuransikan dalam polis, begitu juga dengan jumlah atau nilai kerugian atas kejadian tersebut. Continue reading “‘Burden of Proof’ dan Penerapannya pada Polis Asuransi Berbasis ‘Named Perils’”

‘Indemnity’ vs ‘Actual Cash Value’

Menurut sejumlah buku literatur yang sering dijadikan acuan dalam standard ujian AAMAI, “indemnity” didefinisikan sebagi “mechanism by which the insurer provide financial compensation in an attempt to place the insured in the same pecuniary position after the loss as he enjoyed immediately before it”. Dan merupakan salah satu dari 6 (enam) prinsip dasar asuransi selain insurable interest, utmost good faith, proximate cause, subrogation, dan contribution. Continue reading “‘Indemnity’ vs ‘Actual Cash Value’”